Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Awal Utang Adalah Kesedihan dan Akhirnya adalah Penyesalan

Sumber gambar : bali.tribunnews.com/


Hikmahdanhikmah.com - Rasulullah SAW bersabda, “Utang itu bagaikan sebuah noda (pada pakaian putih) bagi agama.” Sebab, sebagaimana utang membuat pemiliknya hina di hadapan orang yang memberinya utang, ia juga menodai kebersihan hatinya.

Rasulullah SAW senantiasa berdoa seperti ini, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan utang.”

Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda sebegitu sering berlindung kepada Allah SWT dari utang?”

Rasulullah SAW menjawab, “Sebab, ketika berutang, seseorang akan berbicara dan berkata bohong serta berjanji tetapi tidak menepatinya.”

Maksudnya adalah ketika seseorang memiliki utang, ia akan menentukan waktu untuk membayar utangnya. Namun, ketika tiba waktunya untuk membayar utang, ia tidak bisa membayar utang pada waktu yang ia janjikan. Maka, dengan begitu, ia telah berkata bohong. Hal ini juga yang dimaksud dengan tidak bisa menepati janji. 

Yakni, ia telah berjanji dengan berkata, “Aku akan membayar utang pada tanggal sekian.” Tatkala tiba harinya, ia tidak bisa membayar utangnya, dan dengan demikian, ia tidak menepati janjinya.

Pencegahan amat keras yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap umatnya agar tidak berutang sudah cukup membuktikan kasih sayang beliau terhadap umatnya lebih besar daripada kasih sayang kedua orang tua mereka. Sebab, beliau tidak pernah menginginkan umatnya terjatuh dalam keadaan hina dan buruk. Beliau senantiasa mengharapkan umatnya merdeka, berbudi luhur, dan mulia.

Betapa malangnya seorang manusia yang sempurna jika karena utang, akalnya selalu sibuk dan ia pun selalu bersedih.

Rasulullah SAW bersabda,

“Jauhilah utang! Sesungguhnya awal utang adalah kesedihan dan akhirnya adalah penyesalan.”

“Hindarilah berutang! Sebab, utang adalah kesedihan dan kesulitan pada malam hari dan kehinaan pada siang hari.”

UNGKAPAN


Orang yang berutang tidak akan mati, tetapi wajahnya akan memucat.

Penggembala yang tidak memiliki utang itu lebih baik daripada pengusaha yang miskin.

Sumber artikel ; Fazilet takvimi.

____________________________________________________________________________________________________

PEMUTUS SILATURAHIM YANG PALING TAJAM Adalah Hutang.

Sahabat mudah berhutang akan mudah menghasilkan dosa selanjutnya.Sahabatku ingatlah, Hutang adalah darurat
pintu terakhir yang terpaksa diketuk
janganlah bermudah-mudahan berhutang

Lahirlah dosa selanjutnya, Niat jelek tidak akan bayar, Niat bayar tidak tepat waktu "Pekan depan" katanya, Tapi hati berbohong

Dosa selanjutnya, Merusak hangatnya persaudaraan Karena rasa saling curiga, Memutus silaturahmi karena malas berjumpa, Bahkan lari dari tagihan

Dosa selanjutnya, Pastilah pinjaman riba bank Hidup di atas hutang, Belum lagi ancaman dosa riba Sangat mengerikan

Sahabatku, bukankah hidup sederhana Qana'ah apa adanya lebih tenang dan bahagia Daripada pura-pura kaya dengan hutang.
Seseorang bisa terhina karena hutang

Umar bin Abdul Aziz berkata,

“Aku wasiatkan kepada kalian agar tidak berhutang, meskipun kalian merasakan kesulitan, karena sesungguhnya hutang adalah kehinaan di siang hari kesengsaraan di malam hari, tinggalkanlah ia, niscaya martabat dan harga diri kalian akan selamat, dan masih tersisa kemuliaan bagi kalian di tengah-tengah manusia selama kalian hidup.”
[Umar bin Abdul Aziz Ma’alim Al Ishlah wa At Tajdid, 2/71]

Penyusun: Raehanul Bahraen ,Sumber Tambahan artikel :
https://www.facebook.com/groups/625106558312843/?ref=share 


Posting Komentar untuk "Awal Utang Adalah Kesedihan dan Akhirnya adalah Penyesalan"

banner 800x90