Januari 06, 2022

Kekhusyukan dan ketenangan hati dalam shalat

Sumber gambar : https://umma.id/

Hikmahdanhikmah.com - Imam Rabbani KS berkata sebagai berikut,

“Saudaraku tercinta, sesungguhnya dunia ini adalah tempat beramal. Adapun tempat menerima balasan atas amal-amal itu adalah akhirat. Setiap orang harus berusaha dalam melakukan amal-amal saleh. Amal yang paling utama dan ibadah yang paling baik adalah melaksanakan shalat dengan sempurna. Shalat itu sendiri merupakan tiang agama dan mi’rajnya orang beriman. Setiap orang harus berusaha dengan baik untuk melakukan shalat tepat waktu dan berhati-hati dalam hal ini. Selain itu, ia juga harus melaksanakan setiap rukun, syarat, sunah dan adab-adab shalat dengan sebaik mungkin. (Maktubat Imam Rabbani, Jilid 2, maktub ke-20)

“Ketahuilah bahwasanya menurut orang fakir ini (Imam Rabbani KS), sempurnanya shalat adalah dengan melakukan (empat hal berikut) hal-hal yang fardu, wajib, sunah, dan mustahab dalam shalat. Selain empat hal ini, tidak ada sesuatu yang berpengaruh pada sempurnanya shalat. Sebab, kekhusyukan dan ketenangan hati dalam shalat tergantung pada empat hal tersebut.

Dikatakan dalam sebuah hadis syarif, “Shalat tidak akan sempurna tanpa khusyuknya hati.” Yang dimaksud dari khusyuknya hati di sini adalah tidak bermalas-malasan ketika melaksanakan hal-hal yang fardu, wajib, sunah, dan mustahab dalam shalat.” (Maktubat Imam Rabbani, Jilid 1, maktub ke-305)

TIDAK TERTARIK PADA YANG HARAM


Pada suatu hari, Sayidina Ali Karramallāhu wajhah mengamanahkan bagalnya kepada seseorang lalu masuk ke dalam masjid. Akan tetapi, orang itu mengambil tali kekang bagalnya lalu membawanya pergi.

Sayidina Ali KW menyiapkan dua dirham untuk diberikan kepada orang itu, dan ketika keluar dari masjid, beliau melihat bagalnya berkeliaran tanpa tali kekang. Beliau pun menaikinya dan pergi. Setelah itu, Sayidina Ali KW memberikan dua dirham kepada budaknya untuk membeli tali kekang yang baru dari pasar. Di pasar, budak tersebut melihat pencuri itu sedang menjual tali kekang yang telah dicurinya. Lalu, ia pun membeli tali kekang itu dari si pencuri seharga dua dirham dan membawanya kepada Sayidina Ali KW.

Atas hal ini, Sayidina Ali KW berkata, “Sungguh, seorang hamba mengharamkan rezeki yang halal untuk dirinya dengan meninggalkan kesabaran. Padahal, tidak ada yang lebih dari apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT sebagai rezeki baginya.”

Sumber artikel:Fazilet takvimi

Tags :

Yudi hartoyo

Admin Yayasan yatim dan dhuafa

Saya seorang blogger Online sejak 2011 Saat ini Memiliki kesibukan di bisnis online dan offline ,adapun Hikmahdanhikma.com ini adalah Sarana Support untuk website resmi yayasan yakni www.yayasanpijarmulia.com

  • Yudi hartoyo
  • Yayasan Pijar Mulya Pati d/a Desa Sriwedari Dusun Pagak RT 03 RW 03 (belakang masjid Pagak) kec.jaken Jawa tengah 5918
  • temandalamtaqwa@gmail.com
  • +6285 2680 70123

Posting Komentar