Januari 13, 2022

Nabi Yakub ‘Alaihissalām dan Nabi Yusuf AS



Hikmahdanhikmah.com - Nabi Yakub ‘Alaihissalām memiliki dua belas orang putra. Di antara putra-putranya itu, ia sangat menyayangi Yusuf AS. Suatu hari Yusuf AS menceritakan sebuah mimpi yang dilihatnya kepada ayahnya. Ayahnya pun menyadari dari mimpi tersebut bahwasanya Allah SWT akan meninggikan derajat Yusuf AS di atas saudara-saudaranya yang lain.

Seiring berjalannya waktu, saudara-saudara Nabi Yusuf AS merasa iri terhadap Nabi Yusuf AS. Pada suatu hari mereka membawa Nabi Yusuf AS ke sebuah tempat di pedalaman hutan lalu melemparkannya ke dalam sumur. Ketika kembali, mereka berdusta kepada ayahnya dengan berkata, “Serigala telah menerkam Yusuf.” Selanjutnya, salah seorang dari mereka merasa kasihan lalu membawakan makanan kepada Nabi Yusuf AS. 

Kemudian, ia melihat sebuah kafilah dagang yang tiba di sumur itu mengeluarkan Nabi Yusuf AS dari dalam sumur. Lalu, ia segera memanggil saudara-saudaranya yang lain. Saudara-saudara Nabi Yusuf AS pun menjual Nabi Yusuf AS kepada kafilah dagang tersebut seraya berkata, “Dia adalah budak kami, dia telah melarikan diri.”

Akhirnya, sambil bertawakal kepada Allah SWT, Nabi Yusuf AS dibawa pergi oleh kafilah dagang tersebut. Kafilah itu pun tiba di Mesir. Kemudian, Menteri Keuangan Mesir yang bernama Aziz membeli Nabi Yusuf AS. Pada saat itu tidak ada seorang pun yang dapat menandingi ketampanan Nabi Yusuf AS. 

Beliau juga lebih unggul dari teman sebayanya dari segi kedewasaan dan pemahaman. Di wajahnya terpancar cahaya yang indah. Suatu ketika, Nabi Yusuf AS mendapatkan fitnah. Ia dipenjara meskipun tidak melakukan kesalahan apa pun. Ia tinggal di penjara selama tujuh tahun.

Pada suatu hari, Raja Mesir melihat sebuah mimpi, tetapi para penafsir mimpi tidak dapat menafsirkan mimpinya itu. Lalu, Raja tersebut menyuruh orang-orangnya untuk pergi ke penjara menemui Nabi Yusuf AS dan menanyakan tafsir mimpinya itu. Nabi Yusuf AS menafsirkan mimpinya itu sebagai berikut, “Panen besar akan berlangsung selama tujuh tahun. Ambillah secukupnya makanan kalian dari hasil panen dan simpanlah sisanya untuk tahun-tahun mendatang. 

Kemudian, musim paceklik akan berlangsung selama tujuh tahun. Pada saat itu kalian dapat memakan makanan yang sudah kalian simpan selama tujuh tahun sebelumnya. Setelah itu, panen besar akan terjadi kembali.”

Ketika tafsir mimpi itu disampaikan kepada Raja, Raja pun berkata, “Bawalah orang itu ke hadapanku! Aku akan menjadikannya sebagai pelayanku.”

Akhirnya, Nabi Yusuf AS bertemu dan berbicara dengan Raja tersebut. Raja Mesir itu sangat mengagumi kedewasaan dan bakatnya. Ketika itu, Menteri Keuangan Aziz telah wafat. Kemudian, Raja Mesir pun mengangkat Nabi Yusuf AS sebagai wazirnya dan sebagai menteri keuangan. Setelah itu, istri Aziz yang bernama Zulaikha dinikahkan dengan Nabi Yusuf AS.

Nabi Yusuf AS meningkatkan pertanian di Mesir dan mengumpulkan banyak hasil panen dalam tujuh tahun. Setelah itu, musim paceklik terjadi selama tujuh tahun dan harga bahan-bahan makanan naik. Di bagian Syam juga terjadi musim paceklik dan harga bahan-bahan makanan juga naik. 

Pada saat itu tidak tersisa persediaan hasil panen di mana pun selain di gudang penyimpanan Mesir. Maka dari itu, hasil panen mulai dibagikan kepada masyarakat sesuai dengan jumlah orang agar tidak ada yang mengambil lebih dari yang diperlukan. 

Saudara-saudara Nabi Yusuf AS terpaksa meninggalkan kota Kanaan dan pergi ke Mesir untuk membeli hasil panen karena paceklik telah melanda. Sementara itu, sejak berpisah dengan Nabi Yusuf AS, Nabi Yakub AS terus menangis dan hatinya dipenuhi dengan api kerinduan yang dahsyat terhadap anaknya itu. Namun, putra kecilnya, Benyamin, membuat Nabi Yakub AS merasa terhibur karena dia lebih mirip Nabi Yusuf AS daripada saudara-saudaranya yang lain.

Oleh sebab itu, Nabi Yakub AS menahan Benyamin bersamanya dan mengirim sepuluh putranya yang lain ke Mesir untuk membawakan hasil panen.  Sepuluh bersaudara itu datang ke hadapan Nabi Yusuf AS. Nabi Yusuf AS mengenali mereka, tetapi mereka tidak mengenali Nabi Yusuf AS. Setelah menyerahkan hasil panen kepada mereka sesuai dengan bagiannya masing-masing, Nabi Yusuf AS memberikan bagian untuk Benyamin secara terpisah. 

Beliau juga menjamu semua saudaranya itu. Kemudian, beliau berkata kepada mereka, “Jika kalian datang ke sini lagi tanpa membawa saudara kalian yang lain, lebih baik kalian jangan datang lagi karena aku tidak akan menjual hasil panen kepada kalian.” Lalu, Nabi Yusuf AS memasukkan uang, yang telah mereka berikan sebagai bayaran atas pembelian hasil panen itu, ke dalam muatan mereka tanpa mereka sadari.

Selanjutnya, putra-putra Nabi Yakub AS datang ke hadapan ayahnya. Mereka sangat senang ketika membuka muatan dan menemukan sejumlah uang di dalamnya. Ketika akan pergi untuk membeli hasil panen lagi, mereka berkata, “Jika Benyamin tidak pergi bersama kita, hasil panen tidak akan diberikan.” Mereka berjanji kepada ayah mereka untuk menjaga Benyamin dan bersumpah dengan menyebut nama Allah SWT. 

Kemudian, mereka membawa Benyamin dan pergi ke Mesir. Tatkala mereka tiba di Mesir, Nabi Yusuf AS menyambut dan menjamu mereka. Setelah beberapa lama, beliau berbisik kepada Benyamin, “Aku adalah saudaramu. Aku akan membuatmu seolah-olah bersalah dengan sebuah alasan, lalu menahanmu, janganlah kau takut!” Ketika muatan-muatan sedang disiapkan, Nabi Yusuf AS memasukkan sebuah mangkuk emas ke dalam muatan Benyamin. Kemudian, sebelas bersaudara itu berangkat.

Lalu, petugas kerajaan mengejar mereka dan memeriksa muatan mereka. Mereka pun menemukan mangkuk emas itu di dalam muatan Benyamin lalu mengeluarkannya. Pada saat itu, dalam undang-undang Kerajaan Mesir tidak ada hukuman menjadikan seorang pencuri yang ditangkap sebagai tawanan. Sebagai hukumannya, Nabi Yusuf AS menanyakan hukumannya dalam syariat ayah mereka kepada saudara-saudaranya itu, lalu mengambil Benyamin dari mereka untuk dijadikan tawanan.

Kakak-kakak Benyamin berkata, “Wahai Tuan, Benyamin memiliki seorang ayah yang sudah tua renta. Ayahnya sangat menyayanginya dan tidak akan mampu berpisah darinya. Ambillah salah seorang dari kami sebagai pengganti Benyamin! Dengan begitu, Anda telah melakukan kebaikan yang sangat besar.” Nabi Yusuf AS berkata, “Kami telah menahannya atas syariat kalian. Kami berlindung kepada Allah SWT dari menawan orang lain dan menjadi zalim.” Mereka berputus asa dan kembali ke kotanya. 

Namun, kakak tertua mereka berkata, “Aku tidak akan pergi dari sini.” Ia pun tetap tinggal di Mesir. Sembilan saudara lainnya pun pulang kembali menghadap ayah mereka dalam keadaan malu dan kesal. Lalu, mereka menceritakan peristiwa yang terjadi kepada ayah mereka. 

Nabi Yakub AS sangat sedih karena Benyamin ditinggal di Mesir. Matanya menjadi buta karena terlalu banyak menangis. Nabi Yakub AS berkata kepada putra-putranya, “Aku memasrahkan kesedihan dan kegundahanku hanya kepada Allah SWT. Tinggalkanlah aku dalam keadaanku ini! Pergilah kalian, carilah (berita) tentang Yusuf dan Benyamin dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah SWT!” Sembilan bersaudara itu pergi ke Mesir lagi dan menghadap Nabi Yusuf AS, Benyamin pun berada di sisinya.

Mereka pun memohon seraya berkata, “Wahai Tuan, maafkanlah saudara kami itu! Setelah kepergian Yusuf, perpisahan dengan Benyamin membuat ayah kami sangat sedih. Ia menjadi buta karena terlalu banyak menangis.”

Nabi Yusuf AS berkata, “Tahukah kalian keburukan apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf?” Akhirnya, saat itu saudara-saudaranya menyadari bahwa sang menteri tersebut adalah Yusuf AS.

“Apakah kau Yusuf?” tanya saudara-saudara Nabi Yusuf AS dengan rasa terkejut.

“Aku adalah Yusuf dan ini adalah saudaraku. Allah SWT telah menganugerahkan kasih sayang dan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang bersabar,” jawab Nabi Yusuf AS.

Mereka pun meminta maaf, beristigfar, dan bertaubat kepada Allah SWT, lalu berkata, “Allah SWT telah meninggikan derajatmu di atas kami. Kami telah melakukan kesalahan.” Atas hal ini, Nabi Yusuf AS menghibur mereka seraya berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, semoga Allah SWT mengampuni kalian! Pergilah kalian dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan dapat melihat kembali, dan bawalah seluruh keluarga kalian kepadaku!” 

Ketika kafilah mereka keluar dari Mesir, Nabi Yakub AS berkata, “Sesungguhnya Aku mencium bau harum Yusuf, sekiranya kalian tidak menuduhku lemah akal (tentu kalian akan membenarkanku).” Kemudian, putra-putranya datang. Ketika mereka mengusapkan baju Nabi Yusuf AS ke wajah ayahnya, mata ayahnya dapat melihat kembali.

Setelah itu, Nabi Yakub AS beserta semua putra dan keluarganya pergi ke Mesir. Sementara itu, Nabi Yusuf AS, Sultan Mesir, beserta rakyatnya menyambut mereka di luar kota dan membawa mereka masuk ke dalam istana. Saat itu semua orang melakukan sujud syukur. Nabi Yusuf AS menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. 

Nabi Yusuf AS berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sesungguhnya Allah SWT telah berbuat baik kepadaku, Dia telah membebaskanku dari penjara dan membawa kalian dari gurun sampai ke sini dan menyatukan kita semua. Sesungguhnya Allah SWT Mahabijaksana, karunia dan kasih sayang-Nya tidak terbatas.” Lalu, Nabi Yusuf AS bersyukur seraya memuji Allah SWT. Kemudian, Nabi Yakub AS beserta semua putranya tinggal di Mesir selama 17 tahun. Nabi Yusuf AS berusia 56 tahun ketika Nabi Yakub AS wafat. Setelah itu, Nabi Yusuf AS hidup sampai berusia 110 tahun.

Sumber artikel : Fazilet takvimi

Tags :

Yudi hartoyo

Admin Yayasan yatim dan dhuafa

Saya seorang blogger Online sejak 2011 Saat ini Memiliki kesibukan di bisnis online dan offline ,adapun Hikmahdanhikma.com ini adalah Sarana Support untuk website resmi yayasan yakni www.yayasanpijarmulia.com

  • Yudi hartoyo
  • Yayasan Pijar Mulya Pati d/a Desa Sriwedari Dusun Pagak RT 03 RW 03 (belakang masjid Pagak) kec.jaken Jawa tengah 5918
  • temandalamtaqwa@gmail.com
  • +6285 2680 70123

Posting Komentar