Februari 16, 2022

Tumbuh Besarnya Nabi Musa as di Istana Firaun



Hikmahdanhikmah.com - Dahulu kaum Qibti, penduduk asli Mesir, menyembah bintang dan berhala. Mereka meremehkan Bani Israil yang berpegang teguh pada agama Nabi Yakub dan Nabi Yusuf ‘Alaihimassalām. Para Firaun, yaitu para penguasa Mesir, juga memanfaatkan mereka sebagai budak dalam melakukan pekerjaan yang berat dan sulit. Mereka juga khawatir Bani Israil akan bertambah banyak dari hari ke hari.

Bani Israil sudah jenuh dan lelah dengan perlakukan kaum Qibti dan tawaran berat yang merugikan dari para penguasa mereka. Mereka ingin pergi ke wilayah Kanaan, tanah air leluhur mereka. Namun, dengan berbagai alasan, mereka tidak bisa keluar dari Mesir. Saat itu, Bani Israil terdiri dari dua belas kabilah. Setiap kabilah merupakan keturunan setiap putra Nabi Yakub AS, dan masing-masing dari mereka memiliki pemimpin yang berbeda. Jika mereka bersatu dan berkumpul di bawah kekuatan seorang pemimpin, mereka dapat membebaskan diri dari perbudakan.

Ketika itu, salah seorang peramal memberikan kabar kepada Firaun, “Seorang anak akan lahir dari Bani Israil dan negerimu akan hancur.” Firaun pun ketakutan dengan hal itu, lalu ia mengirim algojo ke setiap desa dan mulai membunuh anak laki-laki yang lahir dari Bani Israil.

Pada tahun itu, Nabi Musa AS lahir ke dunia. Akan tetapi, ibunya menaruhnya ke dalam sebuah peti dan menghanyutkannya di Sungai Nil. Kemudian, istri Firaun, yaitu Sayidah Asiyah, melihat peti itu dan mengambilnya. Ketika membuka petinya dan melihat Nabi Musa AS di dalamnya, ia sangat merasa senang. Sayidah Asiyah menyuruh pelayannya membawa banyak ibu susu untuk Nabi Musa AS. Namun, Nabi Musa AS tidak menyusu sama sekali dari seorang pun dari mereka. 

Sementara itu, setelah menghanyutkan Nabi Musa AS di Sungai Nil, ibu Nabi Musa AS menyuruh seseorang untuk mengikuti anaknya itu. Ketika mengetahui bahwa Nabi Musa AS dibawa ke istana Firaun dan dicarikan ibu susu untuknya, ibunya juga ingin (berpura-pura) menjadi ibu susu untuk anak kandungnya itu. Akhirnya, Nabi Musa AS pun mulai menyusu dari ibu kandungnya itu. Ibunya merawat dan membesarkan putranya sendiri di istana Firaun tanpa mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Ketika beranjak dewasa, Nabi Musa AS meninggalkan Mesir karena sebuah peristiwa yang menimpanya.

Kemudian, Nabi Musa AS menyeberang dari Mesir ke Jazirah Arab, dan pergi ke Madyan. Di sana beliau menikah dengan putri Nabi Syuaib AS. Setelah tinggal di sana selama sepuluh tahun, ketika membawa keluarganya pergi ke Mesir, Allah SWT menghadiahkan Nabi Musa AS dengan firman-Nya, kenabian pun diberikan kepadanya. Setelah itu, Nabi Musa AS datang ke Mesir dan bertemu dengan saudaranya, Nabi Harun AS.

Sumber Artikel:Fazilet takvimi

Tags :

Yudi hartoyo

Admin Yayasan yatim dan dhuafa

Saya seorang blogger Online sejak 2011 Saat ini Memiliki kesibukan di bisnis online dan offline ,adapun Hikmahdanhikma.com ini adalah Sarana Support untuk website resmi yayasan yakni www.yayasanpijarmulia.com

  • Yudi hartoyo
  • Yayasan Pijar Mulya Pati d/a Desa Sriwedari Dusun Pagak RT 03 RW 03 (belakang masjid Pagak) kec.jaken Jawa tengah 5918
  • temandalamtaqwa@gmail.com
  • +6285 2680 70123

Posting Komentar