Februari 12, 2022

Keadilan Sultan Ibrahim Khan


Hikmahdanhikmah.com
- Sultan Ibrahim Khan naik takhta pada 9 Februari 1640 M dan memimpin Daulah Utsmaniyah selama 8 tahun. Beliau adalah orang yang rendah hati, menyukai kesederhanaan, jauh dari sikap ambisi dan sombong, serta sangat berhati-hati dalam segala hal. Menurut sumber-sumber tepercaya mengenai masa Daulah Utsmaniyah, sebutan ‘gila’ tidak pernah digunakan untuk Sultan Ibrahim. 

Hanya beberapa buku yang ditulis pada abad terakhir berkukuh membeberkan fitnah ini. Padahal, segala sesuatu yang Sultan Ibrahim lakukan dan dorongan beliau terhadap sesuatu yang dilakukan untuk kemajuan militer, keuangan, keadilan, dan pemerintahan negara adalah sebuah bukti atas ketidakbenaran sifat yang dituduhkan kepada beliau.

Dijelaskan bahwasanya Sultan Ibrahim memiliki jiwa yang sensitif, terkadang beliau merasa sedih, dan hatinya merasa tertekan. Akan tetapi, penyebab utama hal ini adalah kehidupan masyarakat yang tidak dalam ketenangan dan kesejahteraan. Beliau akan merasa tidak nyaman ketika mendengar berita tentang adanya masalah sekecil apa pun.

Ketika melakukan sebuah perjalanan ke Edirne, Sultan mengadakan sebuah pertemuan darurat untuk mendengarkan masalah-masalah masyarakat. “Termasuk saya, kepada siapakah kalian memiliki keluhan?” tanya Sultan kepada orang-orang yang datang. Salah seorang di antara masyarakat maju ke depan. Setelah menyampaikan salam kepada Sultan, orang tersebut berkata, “Sultanku, aku memiliki keluhan.” Maka, Sultan berkata, “Katakanlah agar kami bisa mengatasinya. Jika kau benar dalam keluhanmu, kami akan menghukum orang yang bersalah.”

Orang tersebut berkata, “Sultanku, seseorang yang bernama Tuan Karim telah menzalimiku. Dia telah merampas harta kekayaanku dan melemparku beserta anak-anakku ke jalanan. Sebelumnya aku termasuk orang yang kaya di wilayah ini, sekarang aku telah jatuh miskin. Aku membutuhkan sesuap nasi. Aku memiliki saksi-saksi yang akan membenarkan perkataanku.”

Setelah mendengarkan para saksi, Sultan memerintahkan untuk menemukan dan membawa Tuan Karim ke hadapannya. Lalu, Sultan bertanya kepadanya, “Tuan Karim, ada keluhan tentang dirimu. Kau telah terlibat dalam kejahatan, merampas harta benda orang-orang yang tertindas, dan membuang mereka ke jalanan. Apakah itu benar?”

Bukannya meminta maaf, Tuan Karim malah berbicara macam-macam. Dia mengira Sultan tidak akan melakukan sesuatu kepadanya. Dia mengandalkan kedudukannya sebagai seorang tentara Yanisari dan mengandalkan prajurit-prajurit Yanisari yang merupakan pendukungnya. 

Dengan keberanian ini, dia berteriak, “Sultanku, aku adalah seorang tentara Yanisari.” Atas hal ini, Sultan bangkit dari takhtanya sambil berkata, “Jika kau seorang tentara Yanisari, aku pun seorang sultan,” lalu Sultan memegang kerahnya dan membantingnya ke tanah. Selanjutnya, beliau menghukumnya dan menyerahkan hak-hak yang telah dirampas kepada pemiliknya. (Sejarah Utsmani, Penerbit Çamlıca)

Sumber artikel:Fazilet takvimi

Tags :

Yudi hartoyo

Admin Yayasan yatim dan dhuafa

Saya seorang blogger Online sejak 2011 Saat ini Memiliki kesibukan di bisnis online dan offline ,adapun Hikmahdanhikma.com ini adalah Sarana Support untuk website resmi yayasan yakni www.yayasanpijarmulia.com

  • Yudi hartoyo
  • Yayasan Pijar Mulya Pati d/a Desa Sriwedari Dusun Pagak RT 03 RW 03 (belakang masjid Pagak) kec.jaken Jawa tengah 5918
  • temandalamtaqwa@gmail.com
  • +6285 2680 70123

Posting Komentar