April 19, 2022

Hikmah-hikmah pada Minuman Madu


Hikmahdanhikmah.com - Dalam surat An-Nahl ayat ke-69, Allah SWT menjelaskan bahwa Dia memberikan ilham kepada lebah sebagai berikut, “Kemudian, makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan (dan bunga-bunga) dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”

Salah seorang ashabul kiram datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, saudaraku sakit perut (apa yang Anda sarankan?).” Rasulullah SAW berkata, “Minumkanlah madu kepadanya.” Sahabat tersebut pun meminumkan madu kepada saudaranya. Namun rasa sakit saudaranya itu tidak kunjung sembuh, bahkan malah mengalami diare. Sahabat itu kembali mendatangi Rasulullah SAW. Dia menjelaskan semua yang terjadi. Rasulullah SAW kembali berkata, “Minumkanlah madu kepadanya.” Sahabat tersebut pergi dan kembali meminumkan madu kepada saudaranya untuk yang kedua kalinya. Lalu, kejadian yang sama terjadi.

Sahabat itu kembali datang dan berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, aku telah meminumkannya, tetapi tidak memberikan manfaat.” Rasulullah SAW pun berkata, “Pergilah dan minumkan kembali madu kepadanya. Sungguh, Allah SWT benar dalam perkataan-Nya (padanya terdapat obat untuk manusia). Sementara itu, dalam hal ini, perut saudaramu telah berbohong.” Lalu, ketika sahabat itu pergi dan kembali meminumkan madu kepada saudaranya, dengan izin Allah SWT dia pun memperoleh kesembuhan.

Madu adalah obat untuk berbagai penyakit manusia. Selain madu itu sendiri digunakan sebagai obat, madu juga merupakan bahan utama dalam ramuan-ramuan obat. Di samping itu, madu juga digunakan sebagai pemanis minuman dan obat-obatan pada masa lalu.

Dijelaskan dalam hadis-hadis syarif, “Rasulullah SAW menyukai makanan-makanan yang manis dan madu.” Meski madu juga manis, penyebutannya secara khusus adalah untuk menunjukkan nilai dan keistimewaannya. Selain itu, dari hadis syarif ini juga dipahami bahwa menyukai serta memakan makanan yang lezat dan manis tidak bertentangan dengan kezuhudan dan ketakwaan. Bahkan, tidaklah berlawanan sama sekali jika seseorang memakannya sendiri dan juga menginfakkannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Nikmat yang pertama kali akan diangkat (nilai dan hakikatnya) dari muka bumi adalah madu.”

Sumber artikel:Fazilet takvimi

Tags :

Yudi hartoyo

Admin Yayasan yatim dan dhuafa

Saya seorang blogger Online sejak 2011 Saat ini Memiliki kesibukan di bisnis online dan offline ,adapun Hikmahdanhikma.com ini adalah Sarana Support untuk website resmi yayasan yakni www.yayasanpijarmulia.com

  • Yudi hartoyo
  • Yayasan Pijar Mulya Pati d/a Desa Sriwedari Dusun Pagak RT 03 RW 03 (belakang masjid Pagak) kec.jaken Jawa tengah 5918
  • temandalamtaqwa@gmail.com
  • +6285 2680 70123

Posting Komentar