Desember 22, 2021

Pelajaran Hidup dari Ahmad Jawdat Pasha

Sumber gambar :https://military-history.fandom.com/wiki/Ahmed_Cevdet_Pasha


Hikmahdanhikmah.com - Dalam akhir kitabnya yang bernama Ma’rudhat yang merupakan salah satu persembahannya kepada Sultan Abdul Hamid Han II, Ahmad Jawdat Pasha mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menyalahgunakan pendidikan, prinsip kehidupan, dan pujian-pujian yang ia peroleh, baik dari para pejabat negara maupun dari para sultan, dan juga tidak melampaui batas dengan berambisi dan menjadi serakah. Setelah itu, beliau mengulangi bait-bait berikut ini.

“Erişir menzil-i maksuduna âheste giden

Tîz-reftar olanın pâyine dâmen dolaşır.”

(Orang yang melangkah dengan hati-hati dan secara perlahan-lahan akan mencapai apa yang ditujunya. Jika seseorang berjalan dengan cepat dan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, sarung akan terbelit di kakinya.)

Dalam hal memajukan kehidupan dan mencapai kedudukan yang tinggi, Ahmad Jawdat Pasha tidak pernah tergesa-gesa. Beliau memberitahukan bahwa dirinya telah lebih dahulu memperhatikan hal yang tertera dalam Majallah pasal ke-99 yang berbunyi, “Barang siapa tergesa-gesa dalam menginginkan terjadinya sesuatu sebelum waktunya, ia akan mendapatkan akibat berupa kehilangan sesuatu tersebut.”

Beliau menjelaskan prinsip hidup yang beliau pegang selama hidupnya sebagai berikut,

“Aku melihat bahwasanya orang yang bertindak dengan hati-hati dan berpikir terlebih dahulu akan mendapatkan hasil yang baik. Adapun orang-orang yang tiba-tiba bersinar seperti api masa depannya akan cepat padam. 

Oleh sebab itu, aku mendapatkan pelajaran dengan melihat bahwa dunia itu bergerak sesuai dengan dasar-dasar pasang surut dan naik turunnya. Maka, aku selalu bertindak dengan memilih jalan tengah, berhati-hati, dan cerdas. Aku ridha dengan nasibku, bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan kepadaku, dan bertawakal kepada Allah SWT. 

Aku sering kali berkeliling di lembah ‘Al-Mukhlisūn ‘alā khatharin ‘azhīm’ (orang-orang mukmin yang ikhlas selalu dalam bahaya yang besar) serta telah mengalami banyak kesulitan dan bahaya besar. Akan tetapi, aku tidak pernah keluar dari jalan ‘An-Najātu fish Shidqi’ (keselamatan berada pada kejujuran) dan tidak berpisah dari kebenaran. Sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT, aku tidak pernah ternodai. Allah SWT senantiasa menjaga hamba-Nya ini.

Orang-orang yang senantiasa berada di jalan ini akan selalu memperoleh ketenangan dan kenyamanan. Jika ada sesuatu yang harus ditakuti di dunia ini, itu adalah Allah SWT semata. Takut kepada sultan adalah sebuah hikmah. Takut kepada kedua orang tua adalah hikmah. Takut, malu, dan segan kepada para mursyid juga merupakan sebuah hikmah. Inti dari semua ini adalah takut kepada Allah SWT.

Sumber artikel:Fazilet takvimi

Tags :

Yudi hartoyo

Admin Yayasan yatim dan dhuafa

Saya seorang blogger Online sejak 2011 Saat ini Memiliki kesibukan di bisnis online dan offline ,adapun Hikmahdanhikma.com ini adalah Sarana Support untuk website resmi yayasan yakni www.yayasanpijarmulia.com

  • Yudi hartoyo
  • Yayasan Pijar Mulya Pati d/a Desa Sriwedari Dusun Pagak RT 03 RW 03 (belakang masjid Pagak) kec.jaken Jawa tengah 5918
  • temandalamtaqwa@gmail.com
  • +6285 2680 70123

Posting Komentar