April 13, 2022

Imam Sya’rani RH menemukan Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama masuknya bulan Ramadan sebagai berikut


Hikmahdanhikmah.com - Tujuan dirahasiakannya malam Lailatul Qadar di antara malam-malam di bulan ini adalah agar orang-orang mukmin menganggap setiap malam adalah malam Lailatul Qadar dan memperbanyak ibadah pada setiap malam.

Imam Sya’rani RH menemukan Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama masuknya bulan Ramadan sebagai berikut. 1) Jika bulan Ramadan masuk pada hari Minggu, Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-29 Ramadan.

2) Jika bulan Ramadan masuk pada hari Senin, Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-21 Ramadan.

3) Jika bulan Ramadan masuk pada hari Selasa, Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-27 Ramadan.

4) Jika bulan Ramadan masuk pada hari Rabu, Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-19 Ramadan.

5) Jika bulan Ramadan masuk pada hari Kamis, Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-25 Ramadan.

6) Jika bulan Ramadan masuk pada hari Jumat, Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-17 Ramadan.

7) Jika bulan Ramadan masuk pada hari Sabtu, Lailatul Qadar akan jatuh pada malam ke-23 Ramadan. Imam Sya’rani KS telah mendapatkan Lailatul Qadar berdasarkan cara tersebut selama 30 tahun. Kebanyakan wali Allah juga telah menemukan Lailatul Qadar dengan cara tersebut.

Ketika Lailatul Qadar tiba, langit tampak cerah dan indah. Pada malam itu, segala sesuatu bersujud kepada Allah SWT. Air laut dalam beberapa saat berubah menjadi tawar. Orang-orang mukmin mendapatkan ampunan Ilahi dan magfirah subhaniyah. (Kumpulan Doa dan Ibadah, Penerbit Fazilet)

Menurut perhitungan tersebut, pada hari apa pun bulan Ramadan masuk, Lailatul Qadar akan bertepatan dengan malam Minggu. Maka dari itu, bisa jadi salah satu malam Minggu ganjil yang berada setelah pertengahan bulan Ramadan, seperti tanggal 17 dan 19, adalah malam Lailatul Qadar.

SESEORANG TIDAK BISA MENJADI ULAMA HANYA DENGAN BISA MEMBACA DAN MENULIS


Suatu hari, seseorang yang berada di majelis salah seorang tabiin, Ahnaf bin Qais RH, berkata, “Si fulan adalah orang bodoh, dia tidak bisa membaca dan menulis.” Ahnaf Rahimahullāh berkata sebagai berikut,

“Manusia tidak bisa selamat dari kebodohan hanya dengan membaca dan menulis. Agar seseorang bisa menjadi ulama yang hakiki, ia harus memperhatikan enam hal berikut ini.

• Dia tidak boleh memercayai semua orang yang datang kepadanya.

• Dia tidak boleh banyak berbicara sesuatu yang tidak bermanfaat.

• Dia tidak boleh marah ketika tidak ada sebab yang masuk akal.

• Dia tidak boleh berbuat baik kepada orang yang tidak berhak menerimanya.

• Dia tidak boleh membuka rahasianya kepada semua orang.

• Dia bisa membedakan siapa yang merupakan sahabatnya dan siapa yang merupakan musuhnya.”

Sumber artikel; Fazilet takvimi

Tags :

Yudi hartoyo

Admin Yayasan yatim dan dhuafa

Saya seorang blogger Online sejak 2011 Saat ini Memiliki kesibukan di bisnis online dan offline ,adapun Hikmahdanhikma.com ini adalah Sarana Support untuk website resmi yayasan yakni www.yayasanpijarmulia.com

  • Yudi hartoyo
  • Yayasan Pijar Mulya Pati d/a Desa Sriwedari Dusun Pagak RT 03 RW 03 (belakang masjid Pagak) kec.jaken Jawa tengah 5918
  • temandalamtaqwa@gmail.com
  • +6285 2680 70123

Posting Komentar